Night Race Digelar, Nasib Pedagang Kotalama Jadi Sorotan: Mengapa Tak Ada Koordinasi?

Surabaya||Matarakyat.net — Gelaran Hoofdbureau City Night Race Kapolrestabes Surabaya Cup yang berlangsung pada Sabtu 24/10/26 menuai keluhan dari sejumlah pedagang di sentra Pedagang Kaki Lima (PKL) Jembatan Merah, Surabaya. Mereka mengaku terdampak penutupan area yang biasa digunakan untuk berjualan akibat pelaksanaan kegiatan tersebut.

Keluhan itu mencuat setelah sebuah video yang diunggah melalui akun TikTok @didikSuroboyo2 beredar di media sosial. Dalam video tersebut, seorang pria yang menyampaikan keluh kesah sebagai pedagang mengaku tidak dapat berjualan karena lokasi yang biasa ditempatinya telah dipasangi tenda untuk keperluan acara.

Ia mempertanyakan penutupan area tersebut yang menurut pengakuannya dilakukan tanpa pemberitahuan maupun koordinasi terlebih dahulu dengan para pedagang.

 

“Saya heran, ada apa ini? Kok ditutup tanpa adanya pemberitahuan kepada pedagang,” keluhnya dalam video tersebut.

 

Menurut pria itu, penutupan area berlangsung selama dua hari sehingga berdampak langsung terhadap aktivitas perdagangan. Ia mengaku para pedagang baru mengetahui kondisi tersebut ketika datang ke lokasi dan mendapati area yang biasa digunakan untuk berjualan sudah ditutup.

 

“Kami datang, lokasi sudah ditutup, tanpa koordinasi kepada kita, kepada para pedagang,” ungkapnya.

 

Ia juga berharap agar pihak penyelenggara, khususnya Kapolrestabes Surabaya, dapat mempertimbangkan keberadaan para pedagang kecil ketika menggelar kegiatan yang menggunakan ruang publik atau berdampak pada akses perdagangan.

 

“Alangkah bijaknya Bapak Kapolrestabes Kota Surabaya, bila jika mengadakan kegiatan, ketika menutup akses jalur perdagangan, kami juga mohon diajak ngomong,” tambahnya.

 

Dalam unggahan tersebut, pria itu turut menjelaskan bahwa bagian depan tempat berjualan beberapa pedagang telah tertutup tenda yang digunakan untuk penjualan tiket, area parkir, dan kebutuhan lain yang berkaitan dengan kegiatan.

Kondisi itu, menurut keluhannya, membuat beberapa pedagang kesulitan menjalankan usaha. Bahkan, ia menyebut ada pedagang yang terpaksa menutup lapaknya secara total karena tidak memiliki akses untuk berjualan.

Ia juga menggambarkan kerugian yang dirasakan pedagang makanan. Dagangan yang telah disiapkan sejak sore hari terpaksa dibawa pulang lantaran lokasi berjualan tidak dapat diakses hingga malam.

Situasi tersebut menjadi perhatian karena bagi pedagang kecil, kesempatan berjualan setiap hari merupakan sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Penutupan lokasi tanpa informasi yang memadai, apabila benar terjadi sebagaimana dikeluhkan, berpotensi mengganggu pendapatan mereka.

Para pedagang yang terdampak berharap agar setiap kegiatan serupa ke depan disertai pemberitahuan lebih awal dan koordinasi dengan pihak-pihak yang aktivitas ekonominya berpotensi terganggu.

Mereka tidak semata-mata meminta agar kegiatan dihentikan, melainkan berharap adanya komunikasi dan solusi agar penyelenggaraan acara tetap berjalan tanpa mengabaikan mata pencaharian pedagang kecil.

Hingga berita ini disusun, keluhan tersebut masih berdasarkan keterangan dalam video yang beredar di media sosial. Konfirmasi dari pihak Polrestabes Surabaya maupun panitia penyelenggara mengenai mekanisme pemberitahuan, pengaturan akses, serta solusi bagi pedagang yang terdampak masih diperlukan untuk memperoleh gambaran yang utuh.

Persoalan ini menjadi pengingat pentingnya koordinasi antara penyelenggara kegiatan dan pelaku usaha di sekitar lokasi. Dengan komunikasi yang terbuka serta pengaturan akses yang jelas, kegiatan publik diharapkan dapat berlangsung tertib tanpa mengesampingkan hak masyarakat untuk mencari nafkah.(Muhlas)

Editor: Red

Baca Juga Berita Terkait