SURABAYA | Matarakyat.net – Desa Ketapang Laok, Kabupaten Sampang, Madura, menjadi panggung sebuah drama sosial yang sarat makna. Di balik peristiwa berdarah yang merenggut satu nyawa, tersingkap potret kompleksitas hubungan antarkelompok dalam masyarakat yang menjunjung tinggi tradisi, harga diri, dan rasa hormat.(22/11/2024).
Insiden ini bermula dari kunjungan politik Slamet Junaidi, calon bupati nomor urut 2, ke Padepokan Babussalam milik Kiai Mualif. Bagi masyarakat Madura, tradisi saling menghormati antara tokoh masyarakat menjadi fondasi hubungan sosial.
Namun, kunjungan ini dianggap melanggar norma karena dilakukan tanpa sepengetahuan Kiai Hamduddin, tokoh senior di wilayah itu.
“Kurang ajar, di sini kamu cuma pendatang,” ucap Kiai Hamduddin dalam perdebatan sengit dengan Asrofi, salah satu anggota rombongan.
Ungkapan ini mencerminkan akar konflik yang berakar pada rasa primordialisme dan ego kelompok.
Blokade jalan menggunakan mobil dan kayu oleh kelompok Kiai Hamduddin menjadi titik awal ketegangan.
Mis informasi yang berkembang bahwa korban J telah memukul Kiai Hamduddin semakin memperburuk keadaan. Meski polisi menegaskan kabar tersebut sebagai hoaks, massa yang tersulut emosi sudah tidak dapat dibendung.
Ketegangan berujung pada tragedi ketika sembilan orang dari kelompok Kiai Hamduddin melibatkan diri dalam kekerasan fisik. Celurit yang dikenal sebagai simbol kekuatan tradisional Madura menjadi alat eksekusi yang menandai puncak konflik.
Akibat insiden tersebut, Polda Jatim menetapkan tiga tersangka utama: Fendi Sranum, Abd. Rohman, dan Suadi.
Mereka dikenai pasal kekerasan dengan ancaman hukuman hingga 10 tahun penjara. Namun, bagi masyarakat Ketapang Laok, hukuman formal tidak cukup untuk menyembuhkan luka yang telah tercipta.
Tragedi ini menjadi cermin tentang betapa rentannya dinamika sosial di tengah budaya yang mengutamakan kehormatan dan ego kelompok.
Tradisi yang seharusnya menjadi perekat hubungan justru berbalik menjadi pemicu konflik.
Sampai kapan masyarakat Madura harus terus bersandar pada ego kelompok dan tradisi primordial yang kerap mengorbankan kedamaian?
Perlu langkah nyata dari tokoh masyarakat, pemerintah, dan semua pihak untuk menyembuhkan luka ini.
Ketapang Laok bukan hanya saksi tragedi, tetapi juga pengingat akan pentingnya dialog, pengertian, dan penghormatan yang sejati. Hanya dengan itu, harmoni yang sejati dapat terwujud.

