Kebakaran di Batoporo Timur, Kisah Sedih Ibu Mai dan Solidaritas gotong royong Warga Desa.

SAMPANG | Matarakyat.net – Sabtu siang yang tenang di Desa Batoporo Timur, Kecamatan Kedungdung, Kabupaten Sampang, mendadak berubah menjadi kepanikan. kobaran api muncul tanpa peringatan, melahap rumah milik Ibu Mai, seorang warga desa yang saat itu sedang tidak berada di tempat.

 

Menurut para saksi mata, api pertama kali terlihat menjilat bagian dapur, yang menyatu dengan bangunan utama rumah. Dalam hitungan menit, si jago merah dengan rakus menyebar, memaksa warga sekitar berlarian menyelamatkan apa yang bisa mereka bawa.

 

“Awalnya kami kira ada asap pembakaran biasa, tapi begitu dilihat lebih dekat, api sudah besar di bagian dapur,” ujar Pak Hamid, tetangga terdekat yang menjadi salah satu orang pertama di lokasi kejadian.

 

Saat berita kebakaran menyebar, warga bergegas menuju rumah Ibu Mai, membawa alat seadanya: ember berisi air, kain basah, dan bahkan ranting pohon untuk membantu memadamkan api. Namun, keterbatasan alat membuat upaya mereka terasa berat.

 

Ketegangan memuncak ketika Ibu Mai tiba di lokasi, setelah diberitahu oleh tetangga bahwa rumahnya terbakar. Melihat rumahnya yang sudah dikelilingi api, tangisnya pecah.

 

“Saya tidak menyangka, baru sebentar meninggalkan rumah, ini yang terjadi. Habis semuanya,” ungkap Ibu Mai dengan suara bergetar.

 

Warga yang menyaksikan kejadian itu ikut merasakan pilu.

 

“Kami mencoba menenangkan Ibu Mai, tapi dia terus menangis. Semua kenangan hidupnya ada di rumah itu,” ujar Bu Siti, salah satu tetangga.

 

Kekuatan Gotong Royong Melawan Api

Meski api sempat mengamuk hebat, berkat kegigihan dan kebersamaan warga desa, akhirnya kobaran bisa dijinakkan sebelum meluas ke rumah-rumah lain. Sambil berbaris membentuk rantai manusia, mereka mengoper ember-ember air untuk membasahi bagian rumah yang masih terbakar.

 

“Kalau tidak segera ditangani, pasti merembet ke rumah saya juga,” kata Pak Malik, tetangga sebelah rumah Ibu Mai. “Semua warga di sini bekerja sama tanpa henti sampai api benar-benar padam.”

 

Pelajaran Berharga di Balik Musibah

Hingga berita ini diturunkan, penyebab pasti kebakaran masih menjadi misteri. Dugaan sementara mengarah pada korsleting listrik atau kelalaian di bagian dapur. Total kerugian yang dialami Ibu Mai belum dihitung, tetapi dipastikan cukup besar, mengingat hampir seluruh bagian rumahnya habis terbakar.

 

Peristiwa ini menjadi pengingat penting bagi masyarakat desa akan bahaya kebakaran.

 

“Kita harus selalu berhati-hati, terutama kalau meninggalkan rumah. Pastikan listrik dan api di dapur dalam kondisi aman,” pesan Kepala Desa Batoporo Timur.

 

Meski kehilangan tempat tinggal, Ibu Mai tidak sendiri. Solidaritas warga desa membuktikan bahwa gotong royong masih menjadi kekuatan besar dalam menghadapi musibah. Bantuan dari tetangga dan pihak desa mulai berdatangan, memberikan harapan baru bagi Ibu Mai untuk bangkit dari tragedi ini.

 

Di tengah abu dan puing-puing rumahnya, Ibu Mai masih mencoba menguatkan diri. Dengan dukungan warga yang peduli, ia yakin dapat memulai kembali kehidupan, meski dari awal. “Saya hanya bisa bersyukur ada yang masih peduli. Semoga semua ini bisa segera teratasi,” ucapnya penuh haru.

 

Baca Juga Berita Terkait

Freedom Is Jurnalisme