Ratusan Arek Suroboyo Geruduk Kantor Ormas Madas, Tuding Ada Praktik Premanisme dan Tuntut Pembubaran

Oplus_131072

Surabaya // Matarakyat.net — Suasana Jalan Marmoyo, Surabaya, berubah tegang namun tertib ketika ratusan Arek Suroboyo datang berkonvoi sepeda motor menuju kantor DPC Ormas Madas. Sorak lantang, suara klakson, dan kibaran poster tuntutan terdengar jelas di udara, Jumat (26/12/2025).

Mereka datang bukan sekadar berkumpul tetapi membawa satu pesan keras yang ingin diperdengarkan ke seluruh kota: Surabaya bukan kota preman. Aksi ini merupakan bentuk penolakan atas dugaan praktik premanisme yang dinilai melukai nilai kemanusiaan serta merusak wajah Surabaya sebagai Kota Pahlawan. Massa menilai tindakan intimidatif dan kekerasan tidak bisa dibiarkan tumbuh di ruang sosial masyarakat.

Di depan kantor DPC Madas, para demonstran membentangkan spanduk besar bertuliskan penolakan terhadap tindakan yang dianggap meresahkan publik. Berbagai yel-yel pun menggema, mencerminkan kemarahan sekaligus kegelisahan warga atas insiden yang disebut-sebut melibatkan pengurus ormas tersebut.

“Kami datang bukan untuk gaduh, tapi untuk menuntut keadilan,” ujar Purnama, perwakilan massa aksi. Suaranya tegas disambut riuh persetujuan peserta aksi. “Surabaya tidak boleh tunduk pada premanisme. Kami menuntut pembubaran ormas yang meresahkan, serta meminta proses hukum berjalan atas dugaan pengusiran Nenek Elina Widjajanti yang sudah sepuh. Itu tidak manusiawi!”

Ia menambahkan, pemerintah harus lebih selektif dalam menerbitkan izin organisasi kemasyarakatan. Menurutnya, ormas seharusnya menjalankan fungsi sosial bukan membuat masyarakat merasa takut berada di tanah kelahirannya sendiri.
Usai menyampaikan aspirasi di kantor DPC, massa tidak langsung bubar. Rombongan kembali melanjutkan konvoi menuju kantor PAC Madas. Rute aksi hari itu merupakan bentuk lanjutan penolakan terhadap serangkaian tindakan dan pernyataan ormas tersebut, termasuk ucapan ancaman akan melumpuhkan aktivitas Kota Surabaya yang belakangan viral dan memicu reaksi luas warga.

Hingga aksi berlangsung, situasi relatif kondusif. Massa bergerak tertib dengan pengawalan aparat kepolisian. Tidak terlihat kericuhan fisik, namun tensi protes terasa kuat mencerminkan kemarahan sosial yang tak bisa lagi dibendung.

“Surabaya bukan tempat bagi premanisme. Kami datang untuk membela martabat warga dan kemanusiaan. Jika ormas tidak mampu menjaga etika dan kedamaian, maka lebih baik dibubarkan. Kami mendorong aparat penegak hukum mengusut tuntas dugaan pengusiran Nenek Elina Widjajanti serta tindakan intimidasi lainnya. Surabaya harus aman, untuk semua.” tegas Purnama, selaku Koordinator Aks ini.

Arek Suroboyo tidak tinggal diam saat nilai kemanusiaan diinjak-injak. Suara publik telah terlanjur keluar, dan kini bola berada di tangan pemerintah serta aparat penegak hukum apakah tuntutan massa akan ditindak, atau justru menunggu gelombang protes berikutnya yang bisa jadi lebih besar.

Baca Juga Berita Terkait