SURABAYA | Matarakyat.net – Proyek Jalan Lingkar Luar Timur (JLLT) Surabaya kini menjadi perhatian publik setelah anggaran fantastis sebesar Rp10,5 triliun diumumkan. Banyak pihak mempertanyakan siapa yang sebenarnya diuntungkan dari proyek ini. Apakah proyek ini benar-benar dirancang untuk kepentingan masyarakat Surabaya atau lebih berpihak kepada pengembangan kawasan elit seperti Pakuwon?
Mengapa Wilayah Timur Jadi Prioritas?
Pemerintah memutuskan untuk memprioritaskan pembangunan di wilayah timur Surabaya, yang secara bersamaan menjadi pusat isu reklamasi. Reklamasi oleh pengembang besar sering kali dikaitkan dengan proyek strategis nasional. Hal ini membuat publik curiga bahwa keputusan ini tidak lepas dari agenda bisnis tertentu.
Apakah kebetulan bahwa JLLT dan aktivitas reklamasi berlangsung di waktu yang hampir bersamaan? Banyak pihak menduga adanya hubungan erat antara keduanya. Reklamasi dinilai sebagai cara untuk memperluas wilayah bisnis pengembang besar, dengan dalih mempercepat pembangunan infrastruktur.
Transparansi Anggaran dan Proyek
Dengan anggaran sebesar Rp10,5 triliun, masyarakat Surabaya berhak mengetahui detail penggunaan dana tersebut. Walikota Eri Cahyadi sebelumnya juga mengajukan pinjaman sebesar Rp5 triliun ke Kementerian Keuangan untuk proyek strategis lainnya, menambah sorotan pada transparansi pemerintah dalam mengelola anggaran.
Peneliti pengembangan kawasan pesisir, Ali Yusa, menekankan pentingnya transparansi dalam proyek sebesar ini. Menurutnya, JLLT dapat membawa manfaat besar jika dikelola dengan baik, seperti:
1. Meningkatkan aksesibilitas: Jalan baru mempermudah pergerakan barang dan jasa, sekaligus menarik investor.
2. Efisiensi logistik: Jalan yang baik mengurangi biaya transportasi dan emisi karbon.
3. Mendorong ekonomi lokal: Infrastruktur yang memadai membantu pertumbuhan bisnis kecil dan menengah.
4. Pembukaan wilayah baru: Daerah terpencil menjadi lebih mudah dijangkau, mendukung pengembangan kawasan.
Namun, Ali Yusa juga mengingatkan agar proyek ini tidak menjadi “balas budi” bagi investor besar yang sudah lebih dulu mengembangkan wilayah tersebut. Sebaliknya, pemerintah harus memanfaatkan infrastruktur ini untuk meningkatkan posisi tawarnya terhadap pengembang.
Tantangan Pembangunan di Kawasan Pesisir
Ali Yusa menyoroti tantangan besar dalam pembangunan kawasan pesisir timur Surabaya, termasuk:
Penurunan muka tanah: Wilayah ini mengalami penurunan hingga 40 mm per tahun, yang memerlukan rekayasa pembangunan berkelanjutan.
Sistem aliran air: Kawasan ini memiliki sistem aliran air yang buruk, yang perlu diperbaiki agar pembangunan berkelanjutan dapat berjalan dengan baik.
Menurut Yusa, jika dua aspek ini diperhatikan, proyek JLLT dapat memberikan manfaat besar bagi masyarakat Surabaya sekaligus mendukung pengembangan kawasan secara menyeluruh.
Pengawasan Publik Diperlukan
Mengingat besarnya anggaran dan dampak proyek ini, keterlibatan masyarakat dan pengawasan publik menjadi sangat penting. Pemerintah perlu menjelaskan secara transparan manfaat jangka panjang dari JLLT serta memastikan proyek ini benar-benar dirancang untuk kepentingan publik, bukan hanya segelintir pihak.
Publik berhak mendapatkan kepastian bahwa dana Rp10,5 triliun ini tidak akan menjadi alat bagi kepentingan bisnis tertentu, melainkan investasi untuk kesejahteraan masyarakat Surabaya secara luas.

