Surabaya||Matarakyat.net — Kepedulian dan semangat persaudaraan kembali ditunjukkan Komunitas Belu Atambua dengan mengunjungi Alim Making yang tengah menjalani masa sakit di kediamannya, kawasan Puri Safira Regency, Blok G6 Nomor 16, Surabaya.
Kunjungan tersebut dipimpin langsung Ketua Komunitas Belu Atambua, Frans Ximenes, didampingi Ketua Pembina Dedi Lasi bersama sejumlah anggota komunitas. Turut hadir Ketua Indonesia Timur Bersatu, Toni Tilamo.
Kehadiran rombongan menjadi bentuk nyata kepedulian terhadap sesama warga asal Belu dan masyarakat Indonesia Timur yang berada di tanah perantauan. Selain bersilaturahmi, rombongan juga memberikan dukungan moral serta doa kepada Alim Making agar diberikan kekuatan, ketabahan dan segera memperoleh kesembuhan.
Ketua Komunitas Belu Atambua, Frans Ximenes, mengatakan solidaritas dan rasa persaudaraan merupakan nilai yang harus terus dijaga, terutama ketika ada anggota keluarga atau sesama warga yang sedang menghadapi kondisi sulit.
“Ini merupakan bentuk kepedulian kami sebagai keluarga besar Belu Atambua. Ketika ada saudara yang sedang sakit, kami hadir untuk memberikan dukungan dan semangat. Kami tidak ingin ada saudara kami yang merasa sendirian,” ujar Frans 05/10/26.
Menurutnya, keberadaan komunitas tidak hanya menjadi wadah untuk berkumpul, tetapi juga menjadi ruang untuk membangun kepedulian dan saling menguatkan di tengah kehidupan masyarakat perantauan.
Hal senada disampaikan Ketua Pembina Komunitas Belu Atambua, Dedi Lasi. Ia menilai makna kebersamaan tidak hanya hadir ketika berada dalam suasana suka, tetapi juga harus diwujudkan ketika ada saudara yang membutuhkan perhatian dan dukungan.
“Persaudaraan itu harus hadir dalam keadaan apa pun. Ketika ada saudara yang membutuhkan, kita harus saling menguatkan,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua Indonesia Timur Bersatu, Toni Tilamo, mengapresiasi kepedulian yang ditunjukkan Komunitas Belu Atambua.
Menurut Toni, semangat persaudaraan masyarakat Indonesia Timur perlu terus dirawat melalui kepedulian, kebersamaan dan sikap saling menguatkan, khususnya bagi mereka yang hidup jauh dari daerah asal.
“Persaudaraan jangan hanya menjadi sebuah nama atau slogan. Harus diwujudkan melalui tindakan nyata, seperti kepedulian terhadap saudara yang sedang membutuhkan,” ungkapnya.
Kunjungan tersebut sekaligus menjadi gambaran bahwa ikatan persaudaraan masyarakat Belu Atambua tetap terjaga meski berada jauh dari tanah kelahiran.
Bagi mereka, jarak bukan menjadi penghalang untuk saling peduli. Justru di tanah perantauan, rasa memiliki terhadap sesama warga daerah asal menjadi salah satu kekuatan untuk menjaga kebersamaan.
Semangat tersebut terangkum dalam sebuah ungkapan yang menjadi pengikat persaudaraan masyarakat Belu:
“O RAI BELU, HAU MOS RAI BELU.”
Ungkapan tersebut menjadi simbol kecintaan terhadap tanah kelahiran sekaligus pesan bahwa persaudaraan warga Belu akan terus dijaga, di mana pun mereka berada.
(Muhlas/Red)

