Surabaya|Matarakyat.net — Infrastruktur kelembagaan Pengurus Koordinator Cabang (PKC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jawa Timur mendapat sorotan dari kader. Salah satunya datang dari Ketua II Komisariat PMII Perjuangan Universitas Dr. Soetomo (Unitomo), Mardi Jaya, yang mempertanyakan keberadaan serta fungsi sekretariat PKC PMII Jawa Timur sebagai pusat aktivitas organisasi.
Menurut Mardi, sekretariat merupakan bagian penting dari infrastruktur organisasi, terlebih bagi PKC yang menaungi sejumlah cabang PMII di Jawa Timur. Keberadaan sekretariat, kata dia, semestinya dapat menunjang administrasi, konsolidasi antarcabang, komunikasi organisasi hingga aktivitas kader.
“Sekelas PKC PMII Jawa Timur, masa persoalan sekretariat belum menjadi perhatian serius? Pertanyaan saya sederhana, di mana rumah organisasi yang bisa menjadi pusat aktivitas dan konsolidasi kader PMII Jawa Timur?” ujar Mardi Jaya 05/10/26.
Mardi menegaskan, kritik tersebut bukan dimaksudkan untuk menuntut fasilitas organisasi yang mewah. Namun, menurutnya, sekretariat merupakan salah satu kebutuhan dasar agar roda organisasi dapat berjalan secara tertata.
“Saya tidak menuntut kantor mewah atau gedung besar. Tetapi organisasi sebesar PKC PMII Jawa Timur setidaknya harus memiliki sekretariat yang jelas, representatif, dan dapat digunakan untuk menjalankan aktivitas organisasi,” katanya.
Ia menilai, kejelasan mengenai sekretariat juga penting bagi kader yang membutuhkan akses langsung kepada struktur PKC.
“Kader juga perlu tahu, ketika ingin datang dan berkoordinasi dengan PKC, harus datang ke mana,” imbuhnya.
Sorotan tersebut juga dikaitkan Mardi dengan kepemimpinan PKC PMII Jawa Timur saat ini yang dipimpin M. Ivan Akiedozawa atau Edo.
Menurut Mardi, mandat sebagai Ketua PKC tidak hanya berkaitan dengan pelaksanaan agenda organisasi maupun forum-forum kaderisasi, tetapi juga mencakup penguatan perangkat kelembagaan.
“Ketika seseorang menerima mandat sebagai Ketua PKC, tentu ada tanggung jawab untuk memperkuat institusi. Karena itu, wajar jika kader mempertanyakan apa saja prioritas pembangunan kelembagaan, termasuk mengenai sekretariat organisasi,” ujarnya.
Mardi berpandangan, sekretariat tidak semata-mata berkaitan dengan keberadaan sebuah ruangan atau gedung. Lebih dari itu, sekretariat dapat menjadi simbol sekaligus pusat kerja organisasi yang mempertemukan pengurus dan kader dari berbagai cabang.
“Sekretariat bukan sekadar ruangan. Di sana ada administrasi, komunikasi, konsolidasi, dan tempat kader berinteraksi dengan struktur organisasi. Kalau fasilitas itu belum optimal, tentu perlu menjadi bahan evaluasi bersama,” katanya.
Tegaskan Bukan Serangan Personal
Mardi menegaskan, kritik yang disampaikannya tidak ditujukan sebagai serangan terhadap pribadi Ketua PKC PMII Jawa Timur. Ia menyebutnya sebagai bagian dari kontrol internal dan evaluasi terhadap organisasi.
“Saya tidak sedang menyerang pribadi Edo. Yang saya soroti adalah aspek kelembagaan PKC PMII Jawa Timur. Karena Edo saat ini mendapatkan mandat sebagai Ketua PKC, maka pertanyaan mengenai kinerja dan pembangunan kelembagaan tentu relevan untuk disampaikan secara terbuka,” tegasnya.
Ia berharap PKC PMII Jawa Timur dapat memberikan penjelasan secara terbuka mengenai status sekretariat organisasi.
“Kalau memang sekretariat sudah ada dan berjalan, silakan dijelaskan kepada kader. Kalau masih dalam proses atau belum tersedia secara permanen, sampaikan juga secara terbuka. Menurut saya, keterbukaan justru penting untuk membangun kepercayaan kader,” ujarnya.
Jangan Hanya Bangun Forum, Infrastruktur Juga Diperkuat
Mardi berharap persoalan sekretariat tidak berhenti sebagai polemik internal, tetapi menjadi momentum untuk mengevaluasi sekaligus memperkuat infrastruktur kelembagaan PKC PMII Jawa Timur.
Menurutnya, sebagai struktur koordinasi PMII di tingkat Jawa Timur, PKC membutuhkan perangkat organisasi yang mampu mendukung kerja-kerja administrasi, komunikasi, konsolidasi dan pelayanan kepada kader.
“PKC PMII Jawa Timur adalah rumah besar bagi cabang-cabang PMII di Jawa Timur. Karena itu, rumah organisasi secara fisik maupun kelembagaan harus terus diperkuat. Jangan hanya membangun struktur dan menjalankan forum, tetapi infrastruktur pendukung organisasi juga harus mendapat perhatian,” pungkas Mardi Jaya.
(Muhlas/Red)

