Membangun Peradaban dari Desa, Jejak Panjang Drs. Abd. Rahman Qohar Di Taman Sareh

SAMPANG || Matarakyat.net – Di sebuah sudut utara Kota Sampang, sekitar 4 kilometer dari pusat kota, berdiri sebuah desa bernama Taman Sareh. Desa ini dulu identik dengan jalan tanah berdebu, rumah-rumah sederhana, dan masyarakat yang rata-rata hanya lulusan sekolah dasar. Pendidikan tinggi seolah menjadi mimpi yang terlalu mahal bagi anak-anak desa di pinggiran kota ini.

Namun sejarah Taman Sareh berubah semenjak hadirnya sosok bernama Drs. Abd. Rahman Qohar. Lelaki bersahaja itu memilih jalan sunyi, mengabdikan hidupnya untuk membuka akses pendidikan di tanah kelahirannya.
Perjalanan Pak Rahman tak lepas dari jejak gurunya, KH. Kholil Minhaji, pengasuh Pondok Pesantren Assyahidul Kabir Sumber Batu, Blumbungan, Pamekasan. Dari gurunya itulah beliau mendapat pesan yang menjadi kompas hidupnya.
“Bangunlah pendidikan di desamu. Jangan biarkan anak-anak hidup dalam kegelapan tanpa ilmu”. Tutur sang Guru.
Pesan itu bukan sekadar nasihat, melainkan panggilan hidup. Sejak saat itu, Pak Rahman tahu ke mana langkahnya harus menuju.
Sejak kecil, Pak Rahman akrab dengan keterbatasan. Beliau bersekolah dengan berjalan kaki melewati jalan licin disaat hujan. Lampu minyak menjadi penerang ketika beliau belajar di malam hari. Buku lusuh yang hanyalah beberapa lembar dan dijaganya sepenuh hati.
Kesulitan itulah yang membentuk ketangguhannya. “Saya tidak ingin anak-anak setelah saya merasakan hal yang sama”. katanya di suatu sore, ketika ditemui di sela-sela aktivitasnya di yayasannya.
Pada tahun 2003, tekad itu diwujudkan. Di atas lahan kecil, ia mendirikan Madrasah Tsanawiyah Shofyanul Abshor. Yang hanya tiga kelas seadanya, berdinding sederhana, namun di situlah benih peradaban baru ditanam.
Sambutan masyarakat desa saat itu dingin. Banyak yang menganggap sekolah itu hanya proyek pemerintah. Padahal, semua lahir dari ketulusan dan tekad seorang anak desa. Bantuan dari bupati berupa semen dan bahan bangunan lain hanya sedikit meringankan langkah beliau. Selebihnya, perjuangan itu murni dari tangan dan doanya.
“Saya tidak punya apa-apa. Tapi saya percaya, kalau diniatkan untuk kebaikan, Allah pasti bukakan jalan”, ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Pada awalnya, pendidikan bukanlah prioritas bagi masyarakat Taman Sareh. Bagi sebagian besar warga, cukup sudah bila anak mereka bisa membaca dan menulis. Lanjut sekolah hanyalah sebatas mimpi bagi mereka.
Namun, perlahan keadaan berubah. Madrasah kecil itu terus berdenyut, menarik minat anak-anak desa yang dulunya hanya bisa bermimpi. Dari sinilah lahir Yayasan Ubaidir Rohman, payung besar yang menaungi MTs. Shofyanul Abshor dan Madrasah Aliyah Azzaytun.
Kepala Desa Taman Sareh, Muzammil, tak bisa menutupi rasa bangganya.
“Dulu masyarakat meremehkan. Sekarang Alhamdulillah, anak-anak kami bisa melanjutkan pendidikannya hingga ke bangku kuliah, bahkan sudah banyak yang menjadi sarjana. Itu buah tekad dan perjuangan Pak Rahman”, ujarnya.
Dua puluh tahun lebih berlalu. Dari sekolah sederhana itu lahir ratusan alumni, yang sebagian besar sudah menjadi sarjana muda. Ada yang kembali mengabdi ke desanya, ada pula yang meniti karier di luar Madura.
Muzanni, seorang alumni yang menyebutkan dari sekolah itu sebagai pintu hidupnya.
“Kalau tidak ada MTs Shofyanul Abshor dan MA. Azzaytun, mungkin saya sudah berhenti di SD. Namun dari Sekolah itu membuka jalan saya menuju perguruan tinggi”, katanya.
Kini, ketika banyak anak desa berani bermimpi besar, Pak Rahman tetap hidup sederhana. Tidak ada medali di dadanya, tidak ada tanda jasa resmi dari negara. Namun penghargaan sejati justru datang dari keberhasilan murid-muridnya.
“Saya bukan siapa-siapa. Kalau ada anak desa yang saya didik di yayasan ini bisa sukses, itu sudah cukup membahagiakan untuk saya”, ucapnya dengan senyum yang tulus.
Apa yang dirintis oleh Drs. Abd. Rahman Qohar bukan sekadar sekolah, melainkan gerakan sunyi membangun peradaban dari desa. Taman Sareh yang dulu terpinggirkan, kini berdiri sejajar. Anak-anak di desa itu bisa menatap masa depan dengan kepala tegak, berkat seorang guru yang memilih berjuang tanpa pamrih.
Nama Drs. Abd. Rahman Qohar mungkin tidak tercatat dalam buku sejarah besar negeri ini. Namun bagi masyarakat Taman Sareh, beliau adalah legenda hidup, pejuang tanpa tanda jasa, yang menjadikan ilmu pengetahuan sebagai warisan abadi untuk generasi mendatang.

Baca Juga Berita Terkait

Freedom Is Jurnalisme