Ayam Kate Kian Diminati di Surabaya, Hobi Unggas Hias yang Berpotensi Jadi Peluang Usaha

Surabaya||Matarakyat.net — Ayam kate semakin menarik perhatian para penghobi unggas hias. Memiliki postur tubuh mungil, bulu yang beragam, serta penampilan yang unik, ayam kate dinilai cocok dipelihara masyarakat perkotaan yang memiliki keterbatasan lahan, termasuk di Kota Surabaya.

Tak sekadar menjadi hewan peliharaan, ayam kate juga berpotensi dikembangkan sebagai peluang usaha sampingan. Dengan perawatan yang tepat, kegiatan memelihara unggas hias ini dapat berkembang menjadi aktivitas produktif bagi penghobi maupun peternak.

Salah satu anggota Komunitas Ayam Kate Surabaya (KATES), Drh. Akbar, menjelaskan bahwa pemeliharaan ayam kate tetap membutuhkan perhatian terhadap kesehatan, kebersihan kandang, dan kondisi lingkungan.

Menurutnya, risiko penyakit pada ayam kate pada dasarnya memiliki kemiripan dengan ayam kampung, terutama apabila pemeliharaannya tidak dilakukan dengan baik.

 

“Kalau dipelihara asal-asalan, penyakitnya hampir sama seperti ayam kampung. Namun, kami sebagai penghobi biasanya lebih memperhatikan perawatan, kebersihan kandang, dan kondisi ayam,” ujarnya, 11/10/26.

 

Akbar menambahkan, penghobi yang serius biasanya melakukan pemantauan secara rutin untuk memastikan ayam tetap sehat. Kebersihan kandang dan kecukupan pakan menjadi bagian penting dalam menjaga kondisi unggas sekaligus mengurangi risiko penyakit.

Keterangan: Ketertarikan masyarakat terhadap ayam kate tidak hanya menjadi hiburan dan hobi, tetapi juga berpotensi membuka peluang usaha di sektor peternakan dan perdagangan unggas hias.

Gangguan Pernapasan Perlu Diwaspadai

Salah satu persoalan kesehatan yang terkadang dijumpai dalam pemeliharaan ayam kate adalah gejala gangguan pernapasan, seperti pilek. Kondisi tersebut tidak boleh dianggap sepele karena dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari lingkungan hingga infeksi penyakit.

Akbar mengatakan, sebagian penghobi melakukan perawatan awal dengan memperhatikan kondisi ayam. Dalam praktik pemeliharaan tradisional, ada pula yang memanfaatkan bahan herbal seperti bawang putih, temulawak, dan jahe.

 

“Kalau ada gejala pilek, biasanya kami melihat dulu kondisinya. Ada yang mencoba menggunakan bahan herbal seperti bawang putih, temulawak, atau jahe. Kalau belum membaik, baru dilakukan penanganan lebih lanjut dengan obat yang sesuai,” jelasnya.

 

Meski demikian, penggunaan bahan herbal tidak dapat menggantikan pemeriksaan dan pengobatan yang tepat. Gejala gangguan pernapasan pada ayam juga bisa disebabkan oleh penyakit yang berbeda sehingga penanganannya perlu disesuaikan dengan penyebabnya.

Apabila ayam mengalami kesulitan bernapas, mengeluarkan cairan dari hidung atau mata, kehilangan nafsu makan, maupun menunjukkan gejala yang semakin parah, pemeriksaan oleh dokter hewan menjadi langkah yang disarankan. Ayam yang sakit juga sebaiknya dipisahkan sementara dari unggas lainnya untuk mengurangi risiko penularan.

Postur Mungil Jadi Daya Tarik di Perkotaan

Keterbatasan lahan menjadi salah satu pertimbangan masyarakat perkotaan ketika ingin memelihara hewan. Dalam kondisi tersebut, ayam kate dapat menjadi alternatif bagi warga yang tertarik memelihara unggas hias tanpa harus menyediakan halaman seluas yang mungkin dibutuhkan ayam berpostur besar.

Menurut Akbar, ukuran tubuh ayam kate menjadi salah satu keunggulan yang menarik bagi penghobi di Surabaya.

 

“Kalau di perkotaan seperti Surabaya, tidak semua orang punya halaman luas. Ayam kate ini posturnya lebih kecil, jadi bisa menjadi pilihan bagi masyarakat yang ingin memelihara ayam hias,” ungkapnya.

 

Posturnya yang mungil memungkinkan kandang dirancang lebih ringkas. Namun, ukuran kandang tetap harus disesuaikan dengan jumlah ayam agar unggas memiliki ruang gerak yang cukup.

Sirkulasi udara, kebersihan lingkungan, perlindungan dari panas dan hujan, serta keamanan kandang juga perlu diperhatikan. Dengan demikian, keterbatasan lahan tidak menjadi alasan untuk mengabaikan kebutuhan dasar hewan peliharaan.

Kebutuhan pakan pun dapat disesuaikan dengan ukuran tubuh, umur, dan kondisi ayam. Kendati demikian, penghobi tetap perlu memastikan bahwa pakan yang diberikan memenuhi kebutuhan nutrisi unggas.

Harga Jual Bergantung Jenis dan Kualitas

Selain memiliki daya tarik sebagai unggas hias, ayam kate juga menyimpan potensi ekonomi. Wawan, yang turut menyoroti peluang pemeliharaan ayam kate, menyebut harga jualnya dapat bervariasi bergantung pada jenis, kualitas fisik, kondisi kesehatan, serta kualitas indukan.

Ayam dengan karakteristik yang diminati penghobi berpotensi memiliki nilai jual lebih tinggi. Karena itu, pemilihan indukan dan perawatan sejak dini menjadi perhatian bagi peternak yang ingin mengembangkan usaha pembiakan.

Meski begitu, harga ayam kate tidak dapat disamaratakan. Umur, penampilan, kondisi kesehatan, karakteristik jenis, dan permintaan pasar turut memengaruhi nilai jual setiap ayam.

Bagi sebagian orang, usaha ayam kate dapat dimulai dari hobi memelihara beberapa ekor di rumah. Jika dikembangkan secara bertahap, kegiatan tersebut berpotensi menghasilkan pemasukan tambahan melalui penjualan ayam maupun hasil pembiakan.

Namun, peluang usaha tersebut tetap membutuhkan perhitungan biaya pakan, pembuatan kandang, perawatan kesehatan, serta kemampuan menjaga kualitas ayam. Potensi keuntungan juga bergantung pada permintaan pasar dan biaya pemeliharaan yang dikeluarkan.

Keberagaman jenis dan variasi bulu menjadi daya tarik tersendiri bagi para penghobi. Kondisi ini memberikan pilihan bagi masyarakat untuk menentukan ayam kate sesuai minat, kebutuhan, dan kemampuan anggaran masing-masing.

Komunitas Jadi Ruang Berbagi Pengalaman

Keberadaan Komunitas Ayam Kate Surabaya (KATES) diharapkan menjadi ruang bagi para penghobi untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan seputar pemeliharaan unggas hias.

Melalui komunitas, penghobi dapat bertukar informasi mengenai pemilihan indukan, pembiakan, perawatan kandang, pemberian pakan, hingga upaya menjaga kesehatan ayam.

Pertukaran pengalaman tersebut penting, terutama bagi pemula yang baru mengenal ayam kate. Dengan pengetahuan yang memadai, penghobi diharapkan mampu menghindari kesalahan pemeliharaan yang berpotensi merugikan kesehatan ayam maupun menambah biaya perawatan.

Di sisi lain, pengembangan hobi menjadi usaha juga memerlukan pemahaman mengenai karakteristik ayam, kualitas bibit, dan kebutuhan calon pembeli. Dengan begitu, kegiatan pemeliharaan tidak hanya berorientasi pada penampilan ayam, tetapi juga pada keberlanjutan usaha.

Kebersihan dan Perawatan Tetap Menjadi Kunci

Meski memiliki ukuran tubuh relatif kecil, ayam kate tetap membutuhkan pemeliharaan yang bertanggung jawab. Kandang harus dibersihkan secara berkala, air minum tersedia dalam kondisi bersih, dan pakan diberikan sesuai kebutuhan.

Kepadatan kandang juga perlu diperhatikan. Ruang yang terlalu sempit, ventilasi yang buruk, serta lingkungan lembap dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan.

Pemantauan rutin terhadap perilaku dan kondisi fisik ayam menjadi langkah penting untuk mendeteksi perubahan sejak dini. Dengan penanganan yang tepat, risiko gangguan kesehatan dapat ditekan dan kualitas pemeliharaan lebih terjaga.

Bagi masyarakat perkotaan yang tertarik memelihara unggas hias, ayam kate menawarkan pilihan dengan postur mungil dan penampilan menarik. Selain menjadi sarana menyalurkan hobi, ayam kate juga berpotensi dikembangkan sebagai usaha sampingan.

Namun, keberhasilan pemeliharaan maupun pembiakan tetap bergantung pada kedisiplinan merawat, kecukupan nutrisi, kebersihan kandang, serta perhatian terhadap kesehatan unggas.

Dengan pengelolaan yang baik, hobi memelihara ayam kate bukan hanya menjadi kegiatan rekreasi, tetapi juga dapat membuka peluang usaha bagi penghobi dan peternak di Surabaya.(Muhlas/Red)

Baca Juga Berita Terkait