1.300 Hektare Tambak Garam Sampang Dilirik Investor, HIMASA Minta Petani Tak Terpinggirkan

Surabaya||Matarakyat.net — Rencana masuknya investasi asing ke sektor industri garam di Kabupaten Sampang, Madura, mendapat perhatian dari Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Sampang (HIMASA) Surabaya, Rizal Fahmi.

Menurut Fahmi, Sampang memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai salah satu sentra produksi garam. Potensi tersebut ditunjang oleh keberadaan lahan tambak garam yang diperkirakan mencapai sekitar 1.300 hektare serta kondisi iklim pesisir yang mendukung proses produksi garam.

 

“Potensi tersebut menjadi modal yang baik bagi Sampang untuk mengembangkan produksi garam. Namun, perlu didukung teknologi, peningkatan produktivitas, akses pasar, serta keterhubungan antara petani dan industri,” ujar Fahmi 04/10/26.

 

Tiga Investor Disebut Berminat

Ketertarikan investor terhadap industri garam Sampang disebut mulai muncul dalam beberapa waktu terakhir. Berdasarkan informasi yang disampaikan Fahmi, terdapat tiga pihak yang menunjukkan minat, yakni investor asal China, Uni Emirat Arab (UEA), serta investor dalam negeri.

Namun, minat tersebut masih berada pada tahap perencanaan dan penjajakan investasi yang difasilitasi oleh Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

Dengan demikian, peluang pengembangan industri garam di Sampang terbuka, meski realisasi investasi masih bergantung pada proses penjajakan, keputusan investor, serta tahapan investasi selanjutnya.

Jangan Sampai Petani Hanya Jadi Penonton

Fahmi menilai masuknya investasi di sektor garam dapat menjadi peluang untuk mengatasi sejumlah persoalan yang selama ini dihadapi petani garam.

Beberapa persoalan tersebut antara lain panjangnya rantai distribusi, fluktuasi harga, keterbatasan penggunaan teknologi, hingga kualitas garam yang belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan industri.

Namun, menurutnya, industrialisasi harus tetap menempatkan petani sebagai bagian penting dari ekosistem produksi.

 

“Akan menjadi masalah ketika kehadiran industri tersebut hanya menguntungkan pihak mereka sendiri dan tidak pada petani. Oleh karena itu, transfer teknologi, ekosistem yang mendukung, efisiensi jalur distribusi, standardisasi harga, dan kepastian pasar perlu diperhatikan,” jelasnya.

 

Menurut Fahmi, keterlibatan petani tidak cukup hanya sebatas sebagai pemasok bahan baku. Jika investasi benar-benar terealisasi, perlu ada pola kemitraan dan ekosistem produksi yang memungkinkan petani memperoleh manfaat ekonomi sekaligus meningkatkan kapasitas produksinya.

Dorong Hilirisasi Garam Sampang

Lebih jauh, Fahmi berharap investasi yang masuk tidak berhenti pada penyerapan garam mentah dari petani. Kehadiran industri diharapkan mampu mendorong hilirisasi sehingga produk garam dari Sampang dapat diolah menjadi produk bernilai tambah.

Dengan hilirisasi, Sampang tidak hanya menjadi daerah penghasil garam mentah, tetapi juga memiliki industri pengolahan yang dapat memperluas nilai ekonomi komoditas tersebut.

 

“Harapannya, jika industri ini terealisasi, Sampang tidak hanya memproduksi garam mentah, tetapi juga memperoleh nilai tambah dari proses pengolahan. Petani harus menjadi bagian dari ekosistem tersebut,” pungkas Fahmi.

 

(Muhlas/Red)

Baca Juga Berita Terkait