SURABAYA | Matarakyat.net – Sebagai penerus semangat perjuangan bangsa, Pemuda Panca Marga (PPM) didirikan dengan cita-cita luhur untuk menjaga nilai-nilai patriotisme dan kebangsaan yang diwariskan para veteran. Organisasi ini menjadi simbol kesinambungan sejarah kemerdekaan, wadah bagi generasi muda untuk merawat warisan perjuangan orang tua mereka yang pernah berjuang tanpa pamrih demi kemerdekaan.
Namun, di balik sejarah gemilangnya, perjalanan PPM tak luput dari berbagai tantangan, khususnya disintegrasi internal yang menggerogoti tubuh organisasi. Perebutan kepemimpinan, ego pribadi, hingga polarisasi politik telah menciptakan konflik berkepanjangan, mengancam eksistensi organisasi yang seharusnya menjadi panutan kebangsaan ini.
Faktor Penyebab Disintegrasi
1. Kepemimpinan yang Lemah dan Fragmentasi
Ketidakmampuan para pemimpin dalam mengelola organisasi telah menciptakan konflik internal. Perebutan kekuasaan sering kali didasarkan pada ambisi pribadi, bukan demi visi bersama.
2. Minimnya Regenerasi Sehat
Organisasi ini gagal memberdayakan generasi muda secara optimal. Kaderisasi yang mandek membuat banyak anak keturunan veteran enggan bergabung, melihat PPM sebagai organisasi kolot yang tidak relevan dengan perkembangan zaman.
3. Pengaruh Eksternal
Tekanan politik dan ekonomi sering kali menyeret PPM ke dalam kepentingan tertentu, memicu rasa iri dan konflik di antara anggotanya.
4. Peran LVRI yang Tidak Produktif
Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) sering terlibat dalam pengelolaan PPM. Sayangnya, alih-alih membawa solusi, keterlibatan ini justru memperumit masalah dan menciptakan keretakan baru.
Jika dibiarkan, PPM akan kehilangan relevansinya sebagai simbol perjuangan bangsa. Dibutuhkan langkah nyata untuk menyelamatkannya:
Pemilihan pemimpin harus dilakukan secara transparan dan berbasis kompetensi, bukan semata karena kedekatan dengan LVRI atau kepentingan politik.
Generasi muda harus diberi ruang untuk berpartisipasi aktif dan dilibatkan dalam setiap pengambilan keputusan.
PPM harus kembali ke akar perjuangannya, menjaga persatuan dan semangat kebangsaan.
Disintegrasi bukanlah akhir, tetapi peluang untuk bangkit dan menjadi lebih kuat. Semua pihak, baik anggota maupun pembina seperti LVRI, harus melakukan introspeksi dan berkomitmen memperbaiki keadaan.
“PPM harus menjadi organisasi yang mampu menginspirasi generasi muda, menjaga warisan perjuangan, dan membawa semangat kebangsaan ke masa depan,” sebuah tanggung jawab besar yang kini ada di tangan seluruh anggotanya.

