Surabaya||Matarakyat.net— Kepemimpinan Ketua Pengurus Koordinator Cabang (PKC) PMII Jawa Timur, Edo, kembali mendapat sorotan dari internal kader. Sejak terpilih pada 5 Agustus 2025 dalam forum pemilihan di Bondowoso, sejumlah kader mempertanyakan arah kepemimpinan serta program kerja yang telah dijalankan hingga saat ini.
Pertanyaan utama yang muncul adalah mengenai visi dan misi Ketua PKC PMII Jawa Timur dalam menjalankan roda organisasi serta sejauh mana program kerja yang telah direalisasikan untuk menjawab kebutuhan kader PMII di seluruh Jawa Timur.
Mardi Jaya, Ketua II PMII Unitomo Surabaya, menilai bahwa seorang Ketua PKC PMII Jawa Timur memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan organisasi berjalan berdasarkan visi, misi, serta program kerja yang jelas dan terukur.
“Ketua PKC PMII Jawa Timur harus mempunyai visi dan misi yang jelas. Kepemimpinan bukan hanya soal bagaimana seseorang terpilih, tetapi bagaimana menjalankan amanah organisasi dan menjawab kebutuhan kader PMII se-Jawa Timur,” ujar Mardi.
Menurutnya, setelah terpilih, ketua harus mampu menerjemahkan visi dan misi tersebut ke dalam program nyata yang dapat dirasakan oleh kader dan struktur PMII di berbagai daerah.
Mardi juga mempertanyakan apa saja program strategis yang telah dijalankan sejak kepemimpinan baru terbentuk.
“Pertanyaannya sederhana: apa yang sudah dilakukan Ketua PKC PMII Jawa Timur sejak terpilih? Program apa yang sudah dijalankan? Apa capaian yang sudah diberikan kepada kader? Ini harus bisa dijelaskan secara terbuka kepada kader,” tegasnya.
Ia mengingatkan agar PMII tidak dijadikan sebagai sarana untuk kepentingan pribadi maupun kepentingan kelompok tertentu. Menurutnya, jabatan dalam organisasi merupakan amanah yang harus dipertanggungjawabkan, baik secara organisatoris maupun moral.
“Jangan sampai PMII dijadikan alat untuk kepentingan pribadi. PMII harus tetap berdiri pada nilai, cita-cita, dan amanah para pendiri organisasi. Ketua bukan hanya memiliki kewenangan, tetapi juga memiliki tanggung jawab besar terhadap kader dan masa depan organisasi,” katanya.
Mardi juga menilai bahwa kritik dan masukan dari kader seharusnya menjadi bahan evaluasi bagi kepemimpinan PKC PMII Jawa Timur. Menurutnya, ruang dialog harus dibuka agar persoalan program, kaderisasi, serta arah gerakan organisasi dapat dibahas secara terbuka.
Ia menegaskan, kritik tersebut bukan semata-mata persoalan personal, melainkan bagian dari kontrol internal kader terhadap jalannya organisasi.
“Kalau ada kader yang mempertanyakan program dan arah organisasi, jangan dianggap sebagai serangan. Justru itu bagian dari kontrol kader. Organisasi sebesar PMII Jawa Timur membutuhkan kepemimpinan yang terbuka, terukur, dan mampu menunjukkan kerja nyata,” ujarnya.
Karena itu, Mardi mendorong Ketua PKC PMII Jawa Timur untuk menyampaikan secara terbuka visi, misi, program kerja, serta capaian organisasi sejak terpilih pada Agustus 2025.
“Jangan hanya berhenti pada proses pemilihan. Setelah terpilih, yang ditunggu kader adalah kerja nyata. Kader berhak mengetahui apa yang sudah dilakukan dan ke mana arah PMII Jawa Timur dibawa,” pungkasnya.
Hingga berita ini disusun, pernyataan mengenai kritik tersebut merupakan pandangan dari Mardi Jaya. Ketua PKC PMII Jawa Timur juga perlu diberikan ruang untuk memberikan klarifikasi dan menjelaskan program kerja serta capaian organisasi sejak terpilih pada 5 Agustus 2025.
(Muhlas/Red)

