Bangkalan || Matarakyat.net — Dusun Gengsian, Desa Sen Asen, Kecamatan Sepuluh Di tengah riuhnya laporan keberhasilan pembangunan dan pengentasan kemiskinan, ada satu rumah yang nyaris roboh dan luput dari perhatian. Di sanalah Bu Mani’a, seorang perempuan lansia, menghabiskan hari-harinya bersama keluarga dalam kondisi yang sangat memprihatinkan.
Bangunan rumah jauh dari kata layak. Dindingnya lapuk, atapnya bocor, tiangnya miring, dan berlantai tanah seadanya. Saat hujan turun, air masuk tanpa permisi. Saat malam tiba, angin dingin menembus celah-celah anyaman bambu yang mulai renggang. Rumah itu lebih menyerupai kandang ayam daripada tempat tinggal manusia.
Di dalamnya, Bu Mani’a tinggal bersama suami yang sudah lanjut usia dan tak lagi mampu bekerja karena kondisi kesehatan yang kian menurun. Dua putranya yang tinggal serumah hingga kini belum memiliki pekerjaan tetap. Karena keterbatasan akses membuat mereka kesulitan mendapatkan penghasilan.
“Kadang kami bingung mau makan apa besok,” ujar Bu Mani’a lirih, matanya berkaca-kaca.
“Kalau hujan turun, kami cuma bisa pasrah. Takut rumah ini roboh, tapi kami tidak punya tempat lain.” Ucapnya.
Suaminya yang lebih banyak terbaring karena sakit hanya bisa berharap ada perhatian dari pemerintah.
“Kami ini orang kecil. Tidak minta lebih, cuma ingin rumah yang layak dan bisa makan setiap hari,” katanya pelan.
Pernyataan keluarga ini membuka pertanyaan besar:
- Di mana peran pemerintah desa dan daerah? Berbagai program bantuan sosial, perbaikan rumah tidak layak huni (RTLH), hingga pemberdayaan ekonomi kerap digaungkan.
- Namun mengapa keluarga dengan kondisi seterang ini belum tersentuh?
- Apakah mereka tak masuk dalam pendataan?
- Apakah ada kekeliruan administratif?
- Ataukah pengawasan di tingkat bawah tak berjalan maksimal?
Pemerintah memang memiliki mekanisme pendataan berbasis DTKS, musyawarah desa, hingga verifikasi berjenjang. Namun sistem seharusnya menjadi solusi, bukan alasan!.
Jika keluarga seperti Bu Mani’a masih tercecer, maka ada yang perlu dievaluasi secara serius.
Kisah ini bukan sekadar potret kemiskinan. Ini cermin tentang sejauh mana kehadiran negara benar-benar dirasakan warganya yang paling lemah.
Di rumah yang nyaris roboh itu, Bu Mani’a dan keluarganya tidak menuntut kemewahan. Mereka hanya ingin hidup lebih manusiawi rumah yang aman, pekerjaan yang layak, dan kepastian makan setiap hari.
Pertanyaannya kini sederhana namun mendasar:
- Akankah pemerintah turun tangan sebelum rumah itu benar-benar roboh?
- Ataukah jerit Bu Mani’a akan kembali tenggelam dalam sunyinya proses administrasi pendataan ?

