Humanis di Ujung Timur Surabaya, “Polantas Menyapa” Hadirkan Wajah Ramah Pelayanan Publik

Surabaya // Matarakyat.net – Pagi itu, suasana di halaman Samsat Surabaya Utara, Jalan Kedung Cowek, Kecamatan Kenjeran, terasa berbeda. Di tengah antrean warga yang hendak membayar pajak kendaraan, mengurus mutasi hingga balik nama, senyum dan sapaan hangat petugas menyambut satu per satu masyarakat yang datang.

Di kantor pelayanan milik Samsat Surabaya Utara itu, pendekatan humanis bukan sekadar slogan. Melalui Program “Polantas Menyapa”, pelayanan publik dibangun dengan sentuhan komunikasi yang ramah, terbuka, dan edukatif.

Program ini merupakan bagian dari inisiatif resmi Korlantas Polri untuk memperkuat interaksi positif antara polisi lalu lintas dan masyarakat. Bukan hanya di jalan raya, tetapi juga di ruang-ruang pelayanan seperti Samsat.

Brigadir Ratri, salah satu petugas di Samsat Surabaya Utara, menuturkan bahwa program tersebut menjadi komitmen nyata dalam menghadirkan pelayanan yang transparan dan profesional.

“Melalui Program Polantas Menyapa, kami ingin memastikan setiap warga mendapatkan informasi yang jelas serta pelayanan yang ramah. Seluruh proses harus berjalan tertib dan sesuai ketentuan,” ujarnya.

Di tengah stigma bahwa mengurus administrasi kendaraan sering kali identik dengan birokrasi rumit, Polantas Menyapa mencoba mematahkan anggapan itu. Setiap warga yang datang lebih dulu diberikan arahan awal mengenai alur pembayaran pajak, syarat mutasi, hingga prosedur balik nama.

Prinsip sederhana “senyum, sapa, salam” menjadi budaya pelayanan. Sapaan yang tulus, penjelasan yang komunikatif, serta kesiapan menjawab pertanyaan warga membuat suasana pelayanan terasa lebih cair.

Tak hanya soal administrasi, pendekatan humanis juga diterapkan saat petugas melakukan edukasi di lapangan. Dalam konteks penindakan maupun teguran, polisi diimbau tetap bersikap sopan dan komunikatif agar masyarakat merasa dihargai, bukan ditekan.

Lebih dari sekadar pelayanan administrasi, Polantas Menyapa membawa misi edukasi kolektif. Pesan keselamatan berkendara mulai dari pentingnya penggunaan helm, sabuk pengaman, hingga kepatuhan terhadap rambu lalu lintas disampaikan secara persuasif.

Interaksi itu sekaligus menjadi ruang dialog. Masyarakat dapat menyampaikan keluhan, masukan, hingga kritik secara langsung kepada petugas. Di titik inilah, pelayanan publik tidak lagi satu arah, melainkan menjadi percakapan dua arah yang membangun kepercayaan.

Di tengah tuntutan reformasi birokrasi dan harapan publik terhadap pelayanan yang bersih, langkah kecil seperti menyapa dan memberi penjelasan dengan sabar ternyata memiliki dampak besar. Kepercayaan tumbuh bukan hanya dari aturan yang ditegakkan, tetapi dari cara aturan itu disampaikan.

Program Polantas Menyapa di Surabaya Utara menjadi gambaran bahwa wajah pelayanan kepolisian bisa tampil lebih humanis tanpa kehilangan ketegasan. Sebab pada akhirnya, ketertiban lalu lintas dan kepatuhan administrasi bukan hanya soal kewajiban, melainkan tentang kesadaran bersama yang dibangun dengan pendekatan yang manusiawi.

Di sudut timur Kota Pahlawan, senyum itu kini menjadi jembatan antara aparat dan warga membangun pelayanan yang bukan hanya profesional, tetapi juga penuh empati.(Nsr)

Baca Juga Berita Terkait

Freedom Is Jurnalisme