Matarakyat.net||SAMPANG — Kesabaran warga pesisir selatan Madura kian menipis. Proyek Jembatan Sreseh–Pangarengan yang telah lama dijanjikan kembali menjadi sorotan tajam. Masyarakat dari Kecamatan Sreseh dan Pangarengan mendesak pemerintah agar tidak lagi menunda realisasi pembangunan yang dinilai krusial bagi masa depan wilayah mereka. Senin (13/4/2026).
Selama bertahun-tahun, proyek ini disebut-sebut sebagai solusi atas keterisolasian wilayah pesisir selatan. Namun hingga kini, realisasinya belum kunjung terlihat jelas, memunculkan kekecewaan yang terus menguat di tengah masyarakat.
Ketua Barisan Nasional Pemuda Madura (BNPM) Kabupaten Sampang, H. Ibroni, menegaskan bahwa pemerintah tidak boleh lagi beralasan.
“Ini bukan lagi soal perencanaan, tapi keberanian mengambil keputusan. Rakyat sudah terlalu lama menunggu. Jangan biarkan proyek ini kembali tenggelam dalam janji,” tegasnya.
BNPM mengapresiasi langkah Slamet Junaidi yang dinilai telah menunjukkan keseriusan melalui percepatan pembebasan lahan hingga mencapai sekitar 95 persen. Namun menurutnya, upaya tersebut akan sia-sia jika tidak diikuti komitmen nyata dari pemerintah di tingkat yang lebih tinggi.
“Daerah sudah bergerak. Sekarang bola ada di tangan provinsi dan pusat. Jangan sampai daerah bekerja sendiri tanpa dukungan,” ujar H. Ibroni.
Sorotan tajam juga diarahkan kepada Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa. BNPM menilai, peran provinsi belum maksimal dalam mengawal proyek strategis tersebut.
“Gubernur harus hadir, bukan sekadar mengetahui. Ini soal keberpihakan terhadap wilayah yang selama ini tertinggal,” katanya.
Tak kalah keras, BNPM juga mengingatkan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dari dapil Madura agar tidak abai dalam memperjuangkan proyek ini di tingkat nasional.
“Jangan hanya datang saat butuh suara rakyat. Saat rakyat butuh pembangunan, justru tidak terlihat,” kritiknya.
Harapan besar juga ditujukan kepada Presiden Prabowo Subianto agar memberikan perhatian khusus terhadap pembangunan Madura, khususnya wilayah pesisir selatan yang dinilai masih tertinggal dibanding wilayah lain.
BNPM menegaskan, pembangunan Jembatan Sreseh–Pangarengan bukan sekadar proyek fisik, tetapi investasi jangka panjang bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Jika terealisasi, jembatan ini diyakini akan:
Membuka akses transportasi yang selama ini terbatas
Mempercepat distribusi hasil garam dan perikanan
Menghidupkan roda ekonomi lokal
Mengurangi ketimpangan pembangunan
Di tengah desakan yang semakin keras, masyarakat kini menunggu bukti, bukan janji.
“Kami sudah terlalu sering mendengar rencana. Sekarang kami butuh realisasi,” ujar seorang warga Sreseh dengan nada kecewa.
Dengan tekanan publik yang terus meningkat, proyek Jembatan Sreseh–Pangarengan kini menjadi tolok ukur keseriusan pemerintah dalam menjawab kebutuhan nyata masyarakat. Jika kembali tertunda, kepercayaan publik pun terancam semakin terkikis.

